
Toxic Relationship?
Mungkin kamu udah gak asing lagi dengan kata-kata Toxic Relationship ya, yang mana kita mungkin juga sering mengalami hal ini atau mungkin sekarang kamu sedang mengalaminya? ^^ Well, semoga kamu bisa langsung move on ya kalau ketemu dengan teman atau sahabat kamu yang toxic ;) Berikut aku bahas 11 ciri-ciri kalau teman atau sahabat kamu toxic
1. Ketemu cuma kalau ada maunya 😌

Biasanya seorang teman kalau udah lama gak bertukar kabar, terus tiba-tiba ngabarin via telepon atau chat dan ngajak ketemuan. Pasti ada maunya deh, entah mau liat keadaan kita sekarang (dalam hal yang negatif ya) atau butuh sesuatu dari kita. Nah, masalahnya kalau kita dekat sih gapapa ya, lha kalo misalnya udah lama ga chat tiba-tiba minta ketemu.
Tapi, kalau kita berfikir secara positif nomor 1 ini masih aman lah ya. Bisa juga dia mau ketemu karena emang cuma punya kita doang sebagai temannya dan benar-benar membutuhkan kita.
2. Suka Pamer

Tahapan kedua adalah si tukang pamer. Janjian sama kamu ternyata cuma mau ngomongin kalau dia baru beli jam tangan mewah dan segala pencapaian-pencapaian dia.
Positive thinking nya ya, mungkin dia mau kasih tau kalau dia bahagia karena baru bisa beli barang mewah & baru ngerasain segala kesuksesannya. Tapi, balik lagi, jadilah orang yang bijaksana ya karena tidak semua senang mendengar pencapaian-pencapaian kamu dan jangan lupa juga, karena tidak semua orang itu baik ya friend, jadi lebih baik kalau baru beli ini itu kalau mau di ceritakan ya lihat-lihat dulu kepada siapa kita bercerita.
3. Iri Hati

Kalau tiba-tiba ketemu teman-teman se-genk langsung dehh gosip-gosip bertebaran (ngomongin si A yang baru beli tas mewah) padahal dia cuma iri aja karena gak mampu beli. #eh
Ini yang paling bahaya dalam sebuah pertemanan ya. Iri hati & dengki. Kalau ada perasaan ini di kamu tolong dibuang jauh-jauh ya, karena, bukan hanya merugikan orang lain juga merugikan diri sendiri, Sebenarnya mungkin ini lebih ke perasaan insecure pada diri sendiri dan berfikir kenapa orang lain bisa lebih dari dirinya, yang mana itu wajar, yang penting adalah jangan sampai justru ini menjadi "bahan" untuk mencemooh orang lain ya seperti contoh yang aku sebutkan tadi.
Sebaiknya dari pada iri dengan pencapaian orang lain, lebih baik mikirin “apa yang harus aku buat untuk menjadi lebih baik seperti dia” jadikan iri hati kamu sebagai motivasi untuk berkembang. Bukan cuma nyinyirin orang ya ;)
4. Bermuka dua

“Ternyata sahabat aku toxic :(“
Nah, sering banget ada teman-temanku yang curhat kalau ternyata sahabatnya sendiri toxic. Well, kalau begitu langkah terbaik adalah menjauh sedikit demi sedikit. Kamu ga rugi kok kalau gak berteman dengan dia. Masih banyak teman-teman yang tulus yang akan berteman denganmu, anggap aja ini sebagai filter dari Tuhan. hihihi...
Well, bermuka dua ini maksudnya, waktu sahabat kamu lagi di depan kamu, rasanya dia baik sama kamu, mendukung kamu, tapi ternyata di belakang kamu, dia jelek-jelekin kamu. Persis seperti gambar di samping, kita ga akan pernah tahu wajah di balik masker seseorang kan ;) So, jangan cepat percaya dulu deh kalau baru kenal, takutnya malah mengecewakan nantinya.
5. Tukang kritik

Pernah gak sih ada temanmu yang selalu bilang “kayaknya ga cocok deh, kamu kayak tante-tante, kok jelek banget” setiap kita berpakaian, atau setelah potong rambut, ya, pokoknya setelah kita merasa keputusan itu adalah keputusan yang terbaik yang sudah kita pilih - tapi ternyata semangat itu dipatahkan dengan kata-kata tsb.
Hal inilah yang selalu bikin kamu jadi gak percaya diri dan jadi takut untuk memutuskan suatu hal. Hmm.. kalau ada teman kamu yang seperti ini harus langsung kamu blacklist sih, karena bakalan bikin kamu jadi merasa kecil. Semangat, jadilah diri sendiri dan mulai sekarang percaya dengan diri kamu. Yang mengenal diri kamu ya diri kamu sendiri. Jauhi orang-orang toxic yang tidak mendukung kamu.
memang kadang sebagian orang…
10. Selalu ingin menjadi yang pertama (Gak mau kalah sama kamu)

Contoh percakapanku dengan seorang teman lama (toxic):
Aku: "Kayaknya aku bakalan bikin konten review ini deh besok, semoga bagus viewnya, mohon doanya ya sist"
B: "Ohya? Ih sama dong ya, aku juga besok mau upload konten review, jangan lupa ya bantuin share story"
Aku langsung speechless kalo kayak gini. haha (Ini cuma contoh ya, tapi aku beneran punya teman seperti ini)
Selalu ingin menjadi yang pertama memang bagus kalau punya perasaan ini, artinya, memang punya semangat untuk menjadi yang pertama. Tapi kalau benar-benar kelihatan tidak mau mengalah seperti ini rasanya kurang baik ya guys. Dalam sebuah pertemanan itu ada baiknya mendukung apa yang dikatakan lawan bicara kamu, jangan sampai jadi seperti contoh di atas, kalau ini sih namanya gak mau kalah. Kalau teman kamu baik, pasti dia juga akan mendukung kamu tanpa kamu suruh kok.
11. Friend with Benefit

Pertemanan yang didasari oleh jumlah follower di sosial media, pangkat kamu, seberapa banyak tas branded kamu, seberapa famous atau terkenalnya kamu, dll yang mana pertemanan ini jelas sangat menguntungkan diri sendiri.
Biasanya pertemanan ini mendatangkan keuntungan untuk sesama (kalau keduanya sama-sama membutuhkan) Kalau aku bilang ini namanya simbiosis mutualisme ^^ yang mana itu baik kalau memang di gunakan untuk kebaikan ya. Contohnya nih, si A punya followers banya di sosial media tapi karena nama nya kurang naik dan dia mau kalau dia lebih terkenal lagi, caranya dengan berteman dengan si B yang followers nya juga sama banyaknya - nah, mereka berteman dan akhirnya saling menguntungkan (followers si A kenal si B, begitupun sebaliknya, followers si B kenal juga si A) Biasanya, ini bagus untuk bikin usaha bareng-bareng. (Ini contoh simbiosis mutualisme ya alias hubungan yang saling menguntungkan).
Nah, aku kasih contoh friend with benefit yang kurang baik kalau di contoh nih;
A adalah seseorang yang baru terjun jadi influencer - dia datang ke sebuah acara dengan andil dia bisa berkenalan dengan teman-teman baru dan bisa belajar banyak di sana. Begitu datang ke acara itu, dia bingung harus kemana karena semua orang sudah punya kelompoknya masing-masing. Akhirnya, A berkenalan dengan salah seorang influencer di sana, sebut saja B. B melihat ke arah A dari atas sampai ke bawah kaki. Lalu, mereka berkenalan dan berbincang-bincang, B minta instagram A (check jumlah followers). Saat mereka berbincang pun, mata B tidak fokus pada mata A, tatapan B selalu melihat ke arah anting, baju dan sepatu yang A kenakan. Lalu, teman-teman geng dari B pun memanggil B dan A pun ditinggal sendirian~ Akhirnya, apakah mereka berteman? Jawabannya adalah tidak. After B, follow sosial media A pun, tidak berapa lama di unfollow. Sampai suatu ketika A sangat viral dan terkenal, B pun langsung mendekatinya lagi.
Mulai sekarang yuk, kita sadari orang-orang yang toxic di dekat kita dan mulai menjauh dari mereka, jangan lagi mikirin kata-kata mereka yang membuat kamu tertekan. Semangat kawan, teman mu bukan mereka saja. ;)
Nah, kita belajar yuk, jangan pernah melihat orang lain dari apa yang dia pakai dan dari siapa dianya, seberapa tinggi pangkatnya dll, bertemanlah dengan siapa saja, bertemanlah dengan tulus, hargai orang lain kalau kamu mau dihargai. Intinya, orang baik akan bertemu dengan orang baik, kalau temanmu sekarang belum tulus denganmu jangan khawatir, nanti kamu akan bertemu dengan orang yang baik dan selalu mendukung kamu. ;)
Comments